Sabtu, 15 Oktober 2011
Jumat, 14 Oktober 2011
Sejarah
Persatuan sepakbola Arek Malang atau lebih dikenal dengan sebutan Arema Malang adalah sebuah klub profesional yang berkedudukan di Kota Malang, Jawa Timur. Tim berjuluk Singo Edan saat ini adalah salah satu kontestan Superliga 2008/09, kompetisi sepakbola paling bergengsi di tanah air.
Semula tim yang lahir pada 11 Agustus 1987 atas dasar prakarsa Acub Zaenal, pencetus lahirnya klub Galatama, ini bernama Aremada. Yakni gabungan klub lokal Malang Armada 86 dan Arema. Namun nama itu tidak bisa langgeng. Beberapa bulan kemudian diganti menjadi Arema 86. . Upaya untuk mempertahankan klub Galatama Arema 86 banyak mengalami hambatan, bahkan tim yang diharapkan mampu berkiprah di kancah Galatama VIII itu mulai terseok-seok karena kesulitan dana.
Dari sinilah, Acub Zaenal bersama putranya Lucky, lantas mengambil alih dan berusaha menyelamatkan Arema 86 agar bisa tetap survive.
Nama Arema 86 pun diubah menjadi Arema dan ditetapkan berdirinya pada 11 Agustus 1987 sesuai akte notaris Pramu Haryono SH No 58. Sejak saat itu, Arema mulai menggelar persiapan layaknya sebuah tim profesional. Baik itu menyangkut skuad timnya maupun fasilitas bagi semua pemain dan ofisialnya.
Prestasi klub Arema dikancah sepakbola nasional terbilang pasang surut. Hal itu karena tergantung pembiayaan klub yang menjadi kendala utama. Maklum saja karena bukan klub "Plat Merah" sehingga tidak mendapatkan kucuran dana APBD. Meski demikian, mahkota juara Galatama pernah mereka rebut pada musim kompetisi 1992.
Sejak mengikuti Liga Indonesia, gabungan klub dari Perserikatan dan Galatama, Arema tercatat pernah tiga kali masuk putaran kedua atau babak delapan besar. Namun kendala finansial terus saja menghimpit perjalanan klub ini, hingga akhirnya diakuisisi kepemilikannya oleh PT Bentoel Internasional Tbk pada pertengahan musim kompetisi 2003.
Akibat krisis keuangan itu pun membuat Arema turun kasta di divisi satu. Tapi dengan kekuatan finansial baru, Arema hanya satu musim berada di divisi satu dan kembali promosi dengan status sebagai juara. Sejak saat itu prestasi Arema cenderung stabil hingga menembus Superliga, kompetisi kasta tertinggi di tanah air yang baru pertama kali digulirkan musim ini.
Berdiri: 1987
Alamat: Jl. Panderman No.2A Indonesia
Telpon: +62 (0) 341 551462 / 586047
Susunan pengurus Yayasan Arema
Pembina: Darjoto Setiawan
Pengawas: Bambang Winarno
Ketua: Muhammad Nur
PT Arema Indonesia
Presiden komisaris: Satrija Budi Wibawa
Komisaris: Dewanti Rumpoko, Edi Antoro, Raja Oktohari Oesman
Direksi: Gunadi Handoko
Media Officer: Topan
Susunan Official Tim Senior Arema
Manajer: Rendra Kresna
Asisten Manajer: Muhammad Taufan
Ketua panpel: Muhammad Muklis
Stadion: Kanjuruhan
Prestasi
Galatama
Juara: 1992/93
Liga Indonesia
1994/95: Peringkat ke-6 Divisi Utama Wilayah Timur
1995/96: Peringkat ke-12 Divisi Utama Wilayah Timur
1996/97: Peringkat ke-3 Divisi Utama Wilayah Barat
1997/98: Kompetisi dihentikan
1998/99: Peringkat ke-3 Divisi Utama Wilayah Tengah
1999/00: Babak Delapan Besar Divisi Utama
2001: Babak Delapan Besar Divisi Utama
2002: Babak Delapan Besar Divisi Utama
2003: Peringkat ke- 17 Divisi Utama (Degradasi ke Divisi I)
2004: Juara Divisi I (Promosi ke Divisi Utama)
2005: Babak Delapan Besar Divisi Utama
2006: Babak Delapan Besar Divisi Utama
2007: Babak Delapan Besar Divisi Utama (Lolos Superliga)
2009:juara ISL
2010:runner up ISL
Persatuan sepakbola Arek Malang atau lebih dikenal dengan sebutan Arema Malang adalah sebuah klub profesional yang berkedudukan di Kota Malang, Jawa Timur. Tim berjuluk Singo Edan saat ini adalah salah satu kontestan Superliga 2008/09, kompetisi sepakbola paling bergengsi di tanah air.
Semula tim yang lahir pada 11 Agustus 1987 atas dasar prakarsa Acub Zaenal, pencetus lahirnya klub Galatama, ini bernama Aremada. Yakni gabungan klub lokal Malang Armada 86 dan Arema. Namun nama itu tidak bisa langgeng. Beberapa bulan kemudian diganti menjadi Arema 86. . Upaya untuk mempertahankan klub Galatama Arema 86 banyak mengalami hambatan, bahkan tim yang diharapkan mampu berkiprah di kancah Galatama VIII itu mulai terseok-seok karena kesulitan dana.
Dari sinilah, Acub Zaenal bersama putranya Lucky, lantas mengambil alih dan berusaha menyelamatkan Arema 86 agar bisa tetap survive.
Nama Arema 86 pun diubah menjadi Arema dan ditetapkan berdirinya pada 11 Agustus 1987 sesuai akte notaris Pramu Haryono SH No 58. Sejak saat itu, Arema mulai menggelar persiapan layaknya sebuah tim profesional. Baik itu menyangkut skuad timnya maupun fasilitas bagi semua pemain dan ofisialnya.
Prestasi klub Arema dikancah sepakbola nasional terbilang pasang surut. Hal itu karena tergantung pembiayaan klub yang menjadi kendala utama. Maklum saja karena bukan klub "Plat Merah" sehingga tidak mendapatkan kucuran dana APBD. Meski demikian, mahkota juara Galatama pernah mereka rebut pada musim kompetisi 1992.
Sejak mengikuti Liga Indonesia, gabungan klub dari Perserikatan dan Galatama, Arema tercatat pernah tiga kali masuk putaran kedua atau babak delapan besar. Namun kendala finansial terus saja menghimpit perjalanan klub ini, hingga akhirnya diakuisisi kepemilikannya oleh PT Bentoel Internasional Tbk pada pertengahan musim kompetisi 2003.
Akibat krisis keuangan itu pun membuat Arema turun kasta di divisi satu. Tapi dengan kekuatan finansial baru, Arema hanya satu musim berada di divisi satu dan kembali promosi dengan status sebagai juara. Sejak saat itu prestasi Arema cenderung stabil hingga menembus Superliga, kompetisi kasta tertinggi di tanah air yang baru pertama kali digulirkan musim ini.
Berdiri: 1987
Alamat: Jl. Panderman No.2A Indonesia
Telpon: +62 (0) 341 551462 / 586047
Susunan pengurus Yayasan Arema
Pembina: Darjoto Setiawan
Pengawas: Bambang Winarno
Ketua: Muhammad Nur
PT Arema Indonesia
Presiden komisaris: Satrija Budi Wibawa
Komisaris: Dewanti Rumpoko, Edi Antoro, Raja Oktohari Oesman
Direksi: Gunadi Handoko
Media Officer: Topan
Susunan Official Tim Senior Arema
Manajer: Rendra Kresna
Asisten Manajer: Muhammad Taufan
Ketua panpel: Muhammad Muklis
Stadion: Kanjuruhan
Prestasi
Galatama
Juara: 1992/93
Liga Indonesia
1994/95: Peringkat ke-6 Divisi Utama Wilayah Timur
1995/96: Peringkat ke-12 Divisi Utama Wilayah Timur
1996/97: Peringkat ke-3 Divisi Utama Wilayah Barat
1997/98: Kompetisi dihentikan
1998/99: Peringkat ke-3 Divisi Utama Wilayah Tengah
1999/00: Babak Delapan Besar Divisi Utama
2001: Babak Delapan Besar Divisi Utama
2002: Babak Delapan Besar Divisi Utama
2003: Peringkat ke- 17 Divisi Utama (Degradasi ke Divisi I)
2004: Juara Divisi I (Promosi ke Divisi Utama)
2005: Babak Delapan Besar Divisi Utama
2006: Babak Delapan Besar Divisi Utama
2007: Babak Delapan Besar Divisi Utama (Lolos Superliga)
2009:juara ISL
2010:runner up ISL
laporan kimdas
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II
ANALISIS VOLUMETRI

Oleh :
Henu Sumekar
1008105041
Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Udayana
2011
ANALISIS VOLUMETRI
1. Tujuan Percobaan
Menentukan kadar asam asetat pada cuka perdagangan
2. Dasar Teori
Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume dalam titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini banyak orang yang menyebut titrasi dengan nama analisis volumetri.
Larutan yang dipergunakan untuk penentuan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di dalam buret (lihat gambar) dan larutan ini disebut sebagai larutan standar atau titran atau titrator, sedangkan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di Erlenmeyer (lihat gambar) dan larutan ini disebut sebagai analit.
Titran ditambahkan sedikit demi sedikit pada analit sampai diperoleh keadaan dimana titran bereaksi secara equivalen dengan analit, artinya semua titran habis bereaksi dengan analit keadaan ini disebut sebagai titik equivalen.
Titik equivalent dapat ditentukan dengan berbagai macam cara, cara yang umum adalah dengan menggunakan indicator. Indikator akan berubah warna dengan adanya penambahan sedikit mungkin titran, dengan cara ini maka kita dapat langsung menghentikan proses titrasi.
Sebagai contoh titrasi H2SO4 dengan NaOH digunakan indicator fenolpthalein (pp). Bila semua larutan H2SO4 telah habis bereaksi dengan NaOH maka adanya penambahan sedikit mungkin NaOH larutan akan berubah warna menjadi merah mudah. Bila telah terjadi hal yang demikian maka titrasi pun kita hentikan.
Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan adanya berubahan warna indicator disebut sebagai titik akhit titrasi. Titrasi yang bagus memiliki titik equivalent yang berdekatan dengan titik akhir titrasi dan kalau bisa sama.
Perhitungan titrasi didasarkan pada rumus:
V.N titran = V.N analit
Dimana V adalah volume dan N adalah normalitas. Kita tidak menggunakan molaritas (M) disebabkan dalam keadaan reaksi yang telah berjalan sempurna (reagen sama-sama habis bereaksi) yang sama adalah mol-equivalen bukan mol. Mol-equivalen dihasilkan dari perkalian normalitas dengan volume.
Tidak semua zat bisa ditentukan dengan cara titrasi akan tetapi kita harus memperhatikan syarat-syarat titrasi untuk mengetahui zat apa saja yang dapat ditentukan dengan metode titrasi untuk berbagai jenis titrasi yang ada. Mengenal berbagai macam peralatan yang dipergunakan dalam titrasipun sangat berguna agar kita mahir melakukan teknik titrasi.
3. Alat dan Bahan
a. Alat:
1. Buret
2. Pipet volume
3. Erlenmeyer
4. Becker glass
5. Gelas ukur
6. Corong
b. Bahan:
1. Aquades
2. HCl 1M
3. NaOH 1M
4. Prosedur Kerja
PERCOBAAN 1 : Pembakuan larutan sekunder NaOH
1. Pipet 10 ml larutan asam oksalat dan masukkan ke dalam Erlenmeyer, lalu ditambahkan 2-3 tetes phenolphthalein.
2. Titrasi larutan tersebut dengan NaOH sampai timbul warna merah muda!
Catat volume NaOH yang digunakan dan ulangi percobaan dua kali lagi!
Hitung normalitas rata-rata dari larutan NaOH!
PERCOBAAN 2 : Penentuan kadar asam asetat
1. Pipet 10 ml larutan cuka perdagangan, kemudian masukan ke dalam erlenmeyer, lalu tambahkan 2-3 tetes phenolphthalein
2. Titrasi larutan tersebut dengan NaOH sampai timbul warna merah muda.
Catat volume NaOH yang digunakan dan ulangi percobaan dua kali lagi.
Hitung kadar asam asetat dala setiap percobaan dan hitung pula kadar asam asetat rata-rata dalam larutan cuka perdagangan tersebut!
5. Hasil Pengamatan
PERCOBAAN 1:menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH
No. | Volume H2C2O4.2H2O (ml) | Volume NaOH (ml) |
1. | 10 | 6,20 |
2. | 10 | 5,25 |
PERCOBAAN 3: Menentukan kadar asam asetat
No. | Volume Asam Asetat (ml) | Volume NaOH (ml) |
1. | 10 | 1,5 |
2. | 10 | 1,7 |
6. Perhitungan
menentukan normalitas larutan baku primer asam oksalat
Berat asam oksalat : 15,758 gr
Volume asam oksalat : 1000 ml = 1 L
B.M asam oksalat = 126 gr/mol
Ditanya: N asam oksalat….???
Jawab:
Molaritas (M) =
= 0,125 mol/L
1 grek = ½ mol
Dan 1 mol H2C2O4= 2 grek
Oleh karena itu diperoleh:
H2C2O4.H2O= 0,125 mol/L x 2 grek/mol
= 0,250 grek/L
= 0,250 N
Maka normalitas asam oksalat yang digunakan adalah 0,250 N
PERCOBAAN 2 :menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH
Volume asam oksalat (Va)= 10 ml
Normalitas H2C2O4 (NA) = 0,250 N
Volume NaOH (I) = 6,15 ml
(II)= 5,25 ml
Ditanya: a) Normalitas NaOH tiap percobaan?
b) Normalitas NaOH rata-rata?
~ Untuk Titrasi (II) [volume NaOH=5,25 ml]
b). Normalitas NaOH rata-rata =
PERCOBAAN 3: Menentukan kadar asam asetat
Kadar asam asetat = 25 %
=
= 25 gram
Mol asam asetat =
≈ 0,4167 mol
[CH3COOH] =
≈ 4,167 M
Pengenceran CH3COOH
V1.M1 =V2.M2
5 ml . 4 M = 500 .M2
20 = 500M2
20/500 = 0,04 M
Jadi molaritas CH3COOH yang diperoleh adalah 0,04 M
Dari 250 ml larutan yang diperoleh, hanya 10 ml yang digunakan
Titrasi I (V NaOH = 1,5 ml)
Nasam asetat x Vasam asetat = NNaOH x VNaOH
N asam asetat = 
=
= 0,0659 N
[CH3COOH] =
=
= 0,659 M
Kadar asam asetat = 0,659 mol/L x 60 gram/mol
= 3,951 gram/L
Artinya dalam 100 ml CH3COOH = 0,1 L x 3,951 gr/L
= 0,3951 gr
Titrasi II (V NaOH = 1,7 ml)
Nasam asetat x Vasam asetat = NNaOH x VNaOH
N asam asetat = 
=
= 0,0746 N
Kadar asam asetat = 0,0746 mol/L x 60 gram/mol
= 4,47 gram/L
Artinya dalam 100 ml CH3COOH = 0,1 L x 4,47 gr/L
= 0,447gr
Kadar asam asetat rata-rata =
= 0,419%
I. Pembahasan
Dalam praktikum ini dilakukan 2 jenis percobaan yaitu menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH dan menentukan kadar cuka perdagangan. Percobaan 1 dan 2 dilakukan dengan menggunakan metode titrasi asam-basa dengan indicator phenolphthalein. Basa yang digunakan adalah basa kuat NaOH. Asam yang digunakan adalah asam lemah oksalat dan asam asetat (cuka).
Pada percobaan pertama dengan metode titrasi asam-basa antara asam oksalat dengan NaOH dengan menggunakan penambahan indicator phenolphthalein. Titrasi ini dilakukan dua kali. Pada titrasi ini digunakan 10 ml asam oksalat, kemudian pada saat perubahan warna asam oksalat dari bening menjadi pink muda dibutuhkan NaOH sebanyak 6,20 ml pada titrasi pertama dan 5,25 ml pada titrasi kedua. Ini menunjukkan sudah tercapainya titik ekuivalen dalam proses titrasi. Adapun reaksi yang terjadi saat asam oksalat direaksikan dengan NaOH adalah:
Dari hasil perhitungan berdasar data yang kami peroleh, normalitas NaOH adalah 0,403 N dan 0,476 N, sehingga normalitas larutan baku sekunder NaOH rata-rata adalah 0,439 N.
Saat percobaan ke-3 dengan titrasi asam-basa antara CH3COOH dengan NaOH warna larutan cuka dari bening menjadi pink muda Peristiwa ini membuktikan telah tercapainya titik ekuivalen di dalam titrasi asam asetat dan NaOH.
Dari perhitungan didapatkan kadar asam asetat yaitu 0,391% dan 0,447%, dan didapatkan kadar asam asetat rata-rata yaitu 0,419%.
II. Kesimpulan
1. Pada percobaan ini dilakukan proses titrasi untuk menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH dan menentukan kadar asam asetat
2. Dari hasil percobaan didapatkan normalitas (N) asam oksalat sebesar 0,250 N
3. Normalitas larutan baku sekunder basa NaOH adalah 0,403 N dan 0,476 N, sehingga normalitas larutan baku sekunder NaOH rata-rata adalah 0,439 N
4. Reaksi yang terjadi saat asam oksalat direaksikan dengan NaOH adalah:
H2C2O4 + 2 NaOHà Na2C2O4 + 2H2O
5. Kadar asam asetat yang didapatkan dari percobaan adalah 0,391 % dan 0,447 %, dan didapatkan kadar asam asetat rata-rata yaitu 0,419%.
6. Reaksi yang terjadi saat asam asetat direaksikan dengan NaOH adalah
CH3COOH + NaOHàCH3COONa + H2O
7. Pada saat terjadi ekivalen antara asam oksalat dengan NaOH dan asam asetat dengan NaOH terjadi perubahan warna dari bening menjadi pink muda
DAFTAR PUSTAKA
v Purba, Michael . 2007. Kimia Untuk SMA Kelas XI Semester 2. Jakarta : Erlangga
v Tim Laboratorium Kimia dasar . 2011 . Penuntun Praktikum Kimia Dasar II. Bukit Jimbaran : Universitas Udayana
v Wildford, L.D.R. 1987. Chemistry for First Examinations. London : Blackie
v Sudarmo, Unggul. Kimia untuk SMA Kelas X. 2004. Jakarta : Erlangga
v Tim Kimia Dasar Jurusan Kimia FMIPA. Diktat Kuliah Kimia Dasar. 2000. Bukit Jimbaran : Universitas Udayana
v Sudiono, Sri, dkk. 2005. Kimia Untuk Kelas XI. Yogyakarta :Intan Pariwara
laporan kimdas
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II
ANALISIS VOLUMETRI

Oleh :
Henu Sumekar
1008105041
Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Udayana
2011
ANALISIS VOLUMETRI
1. Tujuan Percobaan
Menentukan kadar asam asetat pada cuka perdagangan
2. Dasar Teori
Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume dalam titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini banyak orang yang menyebut titrasi dengan nama analisis volumetri.
Larutan yang dipergunakan untuk penentuan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di dalam buret (lihat gambar) dan larutan ini disebut sebagai larutan standar atau titran atau titrator, sedangkan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di Erlenmeyer (lihat gambar) dan larutan ini disebut sebagai analit.
Titran ditambahkan sedikit demi sedikit pada analit sampai diperoleh keadaan dimana titran bereaksi secara equivalen dengan analit, artinya semua titran habis bereaksi dengan analit keadaan ini disebut sebagai titik equivalen.
Titik equivalent dapat ditentukan dengan berbagai macam cara, cara yang umum adalah dengan menggunakan indicator. Indikator akan berubah warna dengan adanya penambahan sedikit mungkin titran, dengan cara ini maka kita dapat langsung menghentikan proses titrasi.
Sebagai contoh titrasi H2SO4 dengan NaOH digunakan indicator fenolpthalein (pp). Bila semua larutan H2SO4 telah habis bereaksi dengan NaOH maka adanya penambahan sedikit mungkin NaOH larutan akan berubah warna menjadi merah mudah. Bila telah terjadi hal yang demikian maka titrasi pun kita hentikan.
Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan adanya berubahan warna indicator disebut sebagai titik akhit titrasi. Titrasi yang bagus memiliki titik equivalent yang berdekatan dengan titik akhir titrasi dan kalau bisa sama.
Perhitungan titrasi didasarkan pada rumus:
V.N titran = V.N analit
Dimana V adalah volume dan N adalah normalitas. Kita tidak menggunakan molaritas (M) disebabkan dalam keadaan reaksi yang telah berjalan sempurna (reagen sama-sama habis bereaksi) yang sama adalah mol-equivalen bukan mol. Mol-equivalen dihasilkan dari perkalian normalitas dengan volume.
Tidak semua zat bisa ditentukan dengan cara titrasi akan tetapi kita harus memperhatikan syarat-syarat titrasi untuk mengetahui zat apa saja yang dapat ditentukan dengan metode titrasi untuk berbagai jenis titrasi yang ada. Mengenal berbagai macam peralatan yang dipergunakan dalam titrasipun sangat berguna agar kita mahir melakukan teknik titrasi.
3. Alat dan Bahan
a. Alat:
1. Buret
2. Pipet volume
3. Erlenmeyer
4. Becker glass
5. Gelas ukur
6. Corong
b. Bahan:
1. Aquades
2. HCl 1M
3. NaOH 1M
4. Prosedur Kerja
PERCOBAAN 1 : Pembakuan larutan sekunder NaOH
1. Pipet 10 ml larutan asam oksalat dan masukkan ke dalam Erlenmeyer, lalu ditambahkan 2-3 tetes phenolphthalein.
2. Titrasi larutan tersebut dengan NaOH sampai timbul warna merah muda!
Catat volume NaOH yang digunakan dan ulangi percobaan dua kali lagi!
Hitung normalitas rata-rata dari larutan NaOH!
PERCOBAAN 2 : Penentuan kadar asam asetat
1. Pipet 10 ml larutan cuka perdagangan, kemudian masukan ke dalam erlenmeyer, lalu tambahkan 2-3 tetes phenolphthalein
2. Titrasi larutan tersebut dengan NaOH sampai timbul warna merah muda.
Catat volume NaOH yang digunakan dan ulangi percobaan dua kali lagi.
Hitung kadar asam asetat dala setiap percobaan dan hitung pula kadar asam asetat rata-rata dalam larutan cuka perdagangan tersebut!
5. Hasil Pengamatan
PERCOBAAN 1:menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH
| No. | Volume H2C2O4.2H2O (ml) | Volume NaOH (ml) |
| 1. | 10 | 6,20 |
| 2. | 10 | 5,25 |
PERCOBAAN 3: Menentukan kadar asam asetat
| No. | Volume Asam Asetat (ml) | Volume NaOH (ml) |
| 1. | 10 | 1,5 |
| 2. | 10 | 1,7 |
6. Perhitungan
menentukan normalitas larutan baku primer asam oksalat
Berat asam oksalat : 15,758 gr
Volume asam oksalat : 1000 ml = 1 L
B.M asam oksalat = 126 gr/mol
Ditanya: N asam oksalat….???
Jawab:
Molaritas (M) = 
= 0,125 mol/L
1 grek = ½ mol
Dan 1 mol H2C2O4= 2 grek
Oleh karena itu diperoleh:
H2C2O4.H2O= 0,125 mol/L x 2 grek/mol
= 0,250 grek/L
= 0,250 N
Maka normalitas asam oksalat yang digunakan adalah 0,250 N
PERCOBAAN 2 :menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH
Volume asam oksalat (Va)= 10 ml
Normalitas H2C2O4 (NA) = 0,250 N
Volume NaOH (I) = 6,15 ml
(II)= 5,25 ml
Ditanya: a) Normalitas NaOH tiap percobaan?
b) Normalitas NaOH rata-rata?
~ Untuk Titrasi (II) [volume NaOH=5,25 ml]
b). Normalitas NaOH rata-rata =
PERCOBAAN 3: Menentukan kadar asam asetat
Kadar asam asetat = 25 %
=
= 25 gram
Mol asam asetat =
≈ 0,4167 mol
[CH3COOH] =
≈ 4,167 M
Pengenceran CH3COOH
V1.M1 =V2.M2
5 ml . 4 M = 500 .M2
20 = 500M2
20/500 = 0,04 M
Jadi molaritas CH3COOH yang diperoleh adalah 0,04 M
Dari 250 ml larutan yang diperoleh, hanya 10 ml yang digunakan
Titrasi I (V NaOH = 1,5 ml)
Nasam asetat x Vasam asetat = NNaOH x VNaOH
N asam asetat = 
=
= 0,0659 N
[CH3COOH] =
=
= 0,659 M
Kadar asam asetat = 0,659 mol/L x 60 gram/mol
= 3,951 gram/L
Artinya dalam 100 ml CH3COOH = 0,1 L x 3,951 gr/L
= 0,3951 gr
Titrasi II (V NaOH = 1,7 ml)
Nasam asetat x Vasam asetat = NNaOH x VNaOH
N asam asetat = 
=
= 0,0746 N
Kadar asam asetat = 0,0746 mol/L x 60 gram/mol
= 4,47 gram/L
Artinya dalam 100 ml CH3COOH = 0,1 L x 4,47 gr/L
= 0,447gr
Kadar asam asetat rata-rata =
= 0,419%
I. Pembahasan
Dalam praktikum ini dilakukan 2 jenis percobaan yaitu menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH dan menentukan kadar cuka perdagangan. Percobaan 1 dan 2 dilakukan dengan menggunakan metode titrasi asam-basa dengan indicator phenolphthalein. Basa yang digunakan adalah basa kuat NaOH. Asam yang digunakan adalah asam lemah oksalat dan asam asetat (cuka).
Pada percobaan pertama dengan metode titrasi asam-basa antara asam oksalat dengan NaOH dengan menggunakan penambahan indicator phenolphthalein. Titrasi ini dilakukan dua kali. Pada titrasi ini digunakan 10 ml asam oksalat, kemudian pada saat perubahan warna asam oksalat dari bening menjadi pink muda dibutuhkan NaOH sebanyak 6,20 ml pada titrasi pertama dan 5,25 ml pada titrasi kedua. Ini menunjukkan sudah tercapainya titik ekuivalen dalam proses titrasi. Adapun reaksi yang terjadi saat asam oksalat direaksikan dengan NaOH adalah:
Dari hasil perhitungan berdasar data yang kami peroleh, normalitas NaOH adalah 0,403 N dan 0,476 N, sehingga normalitas larutan baku sekunder NaOH rata-rata adalah 0,439 N.
Saat percobaan ke-3 dengan titrasi asam-basa antara CH3COOH dengan NaOH warna larutan cuka dari bening menjadi pink muda Peristiwa ini membuktikan telah tercapainya titik ekuivalen di dalam titrasi asam asetat dan NaOH.
Dari perhitungan didapatkan kadar asam asetat yaitu 0,391% dan 0,447%, dan didapatkan kadar asam asetat rata-rata yaitu 0,419%.
II. Kesimpulan
1. Pada percobaan ini dilakukan proses titrasi untuk menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH dan menentukan kadar asam asetat
2. Dari hasil percobaan didapatkan normalitas (N) asam oksalat sebesar 0,250 N
3. Normalitas larutan baku sekunder basa NaOH adalah 0,403 N dan 0,476 N, sehingga normalitas larutan baku sekunder NaOH rata-rata adalah 0,439 N
4. Reaksi yang terjadi saat asam oksalat direaksikan dengan NaOH adalah:
H2C2O4 + 2 NaOHà Na2C2O4 + 2H2O
5. Kadar asam asetat yang didapatkan dari percobaan adalah 0,391 % dan 0,447 %, dan didapatkan kadar asam asetat rata-rata yaitu 0,419%.
6. Reaksi yang terjadi saat asam asetat direaksikan dengan NaOH adalah
CH3COOH + NaOHàCH3COONa + H2O
7. Pada saat terjadi ekivalen antara asam oksalat dengan NaOH dan asam asetat dengan NaOH terjadi perubahan warna dari bening menjadi pink muda
DAFTAR PUSTAKA
v Purba, Michael . 2007. Kimia Untuk SMA Kelas XI Semester 2. Jakarta : Erlangga
v Tim Laboratorium Kimia dasar . 2011 . Penuntun Praktikum Kimia Dasar II. Bukit Jimbaran : Universitas Udayana
v Wildford, L.D.R. 1987. Chemistry for First Examinations. London : Blackie
v Sudarmo, Unggul. Kimia untuk SMA Kelas X. 2004. Jakarta : Erlangga
v Tim Kimia Dasar Jurusan Kimia FMIPA. Diktat Kuliah Kimia Dasar. 2000. Bukit Jimbaran : Universitas Udayana
v Sudiono, Sri, dkk. 2005. Kimia Untuk Kelas XI. Yogyakarta :Intan Pariwara
Langganan:
Postingan (Atom)